Chapter IV “Give Me a Reason...”
“Give Me a Reason...”
2 minggu berlalu semenjak aku
membalik badanku dan bertahan tanpa matahariku, aku merasa sedang berada di
kegelapan tanpa sinar matahari, aku mengurung diriku seolah aku tidak akan
dapat sinar lagi. Aku ingin keluar tapi aku sangat ketakutan akan merasakan
sinar matahari yang begitu hangat sehingga mengingatkanku kepada senyuman itu
lagi. Aku kehilangan matahariku...
Aku menjalani kehidupanku
sehari-hari seperti biasa, kau bertemu denganku lalu aku mengacuhkanmu dan kau
mengejarku untuk bertanya “ada apa
denganmu ??” begitu di setiap harinya kau melakukannya, hingga kau merasa lelah
untuk mengejarku dan akhirnya kau tidak lagi melakukannya. Tapi entah mengapa
aku mencari-carimu ketika kau tidak mengejarku lagi, aku tidak mempermainkanmu
aku menyayangimu, hanya saja aku terlalu takut untuk kembali menatapmu dan
melihat senyuman itu lagi, karena aku tidak ingin setelah aku membangun dinding
yang dingin seperti es, akan di runtuhkan hanya dengan senyuman hangatmu itu.
Saat itu, di hari weekend kau mengirim pesan padaku “aku merindukanmu, bisakah kita bertemu ?
hanya sebentar saja” begitu membacanya, aku meneteskan air mata mungkin
karena aku yang sudah terlanjur menyayangimu dan tidak dapat melepaskanmu
ataupun meninggalkanmu, aku begitu merasa kesakitan untuk melakukannya aku
mencoba untuk tetap berada di ruang gelap tanpa satu sinar pun masuk kedalamnya
kecuali sinar lampu. Dan kau mengirim pesan lagi kepadaku “aku benar benar merindukanmu erwin...” untuk kedua kalinya itu membuatku
berada di antara menjadi orang yang jahat karena telah mengacuhkanmu atau menjadi
orang sudah mengusahakan agar kau tetap bahagia tanpa adanya aku, aku tidak tau
pastinya, aku bingung untuk memastikannya.
Aku tidak tau yang sudah ku lakukan
padamu itu menyakitimu atau tidak, yang jelas aku hanya membalik badanku dan
melangkah pergi. Aku mencoba untuk kembali bertahan tapi entah kenapa aku
sempat berpikir untuk menemuimu, entah karena aku merindukanmu atau hanya ingin
menemui mu dan mengatakan selamat tinggal. Aku mencoba untuk tidak melakukannya
karena untuk saat ini aku mulai terbiasa merasa dingin tanpa sinar yang hangat.
Ketika pagi datang matahari
menempatkan diri pada posisinya, tapi tetap saja aku masih sama dengan hari
kemarin menyembunyikan diri dari sinar matahari. Pada saat itu aku sangat
terkejut ketika ada seseorang yang datang ke rumahku dan memencet bel pintu selama
berulang-ulang dan memaksaku untuk membuka pintu. Begitu aku membuka pintu
seseorang berteriak padaku
“Erwin !!”
aku sangat terkejut saat itu. Seseorang yang sudah lama tidak ku lihat, saat
ini berada tepat di hadapanku.
Ya dia adalah Ashley, matahariku.....
Aku tidak tau apa alasannya Ash datang
menemuiku hari itu, yang aku ingat Ash mengatakan padaku kalau dia merindukan
senyumanku, rindu dengan tawaku, dan rindu suaraku di pagi dan malamnya. Aku
merasa saat itu dinding yang sudah ku bangun dengan fondasi yang kuat, hancur
begitu saja dan menjadi beberapa kepingan “BRAAKK.....”saat
itu semua terasa hancur seketika, seperti itulah rasanya sakit tapi aku tidak
mengetahui di sebelah mana sakitnya.
Saat itu kau mengajakku untuk mengobrol dan kau
akhirnya mengeluarkan pertanyaan “ada apa
denganmu ?? kenapa kau bersikap menjauhiku berikan aku alasanmu Erwin..”
saat itu juga aku tidak bisa membalas pertanyaan itu, pertanyaan ini lebih
sulit daripada soal kimia. Aku hanya menatapmu dengan lembut tanpa suara,
karena jika aku mengatakan apa alasanku aku takut akankah kamu merasa sakit
hati atau akan semakin meninggalkanku disini.
Setelah beberapa jam kau menemaniku, aku merasa
begitu nyaman seolah rasanya aku tidak ingin kehilangan sinar matahariku dan
mencoba membangun dinding yang amat dingin di antara kita, namun aku tetap pada
pilihanku yaitu membalikkan badanku darimu. Saat aku mengantarkanmu ke depan
pintu rumah teringat dengan jelas saat itu apa yang aku katakan padamu “hei Ash apa kau tau apa yang aku rasakan
saat ini ?? aku merasa kau seolah-olah sedang melakukan hal magic, kau
mempertunjukkan dirimu di hadapanku lalu kau memainkan sebuah permainan yang
seolah menipu mataku untuk takjub, setelah menunjukkan diri kau menghilang jauh
pergi seperti magician yang melakukan trik menghilang. Tapi Ash perlu kamu
ketahui daun yang tertiup angin dan pergi jauh, daun itu tidak pernah membenci
angin, seperti itulah yang aku rasakan saat ini jadi aku sedang tidak
membencimu tetapi, aku menyayangimu Ash. Jangan lakukan apapun, biarkan aku
memandangmu dari jauh, berbahagialah.” setelah aku menutup pintuku dengan
tersenyum ke arahmu saat itu lah terakhir kali aku mengatakan padamu jika aku
benar-benar menyayangimu, saat itu juga aku akan menyimpan kenangan itu sendirian di dalam diriku, aku akan melihatmu dari jauh setelah ini, layaknya jarak antara matahari dan bumi.
small note from author "kenangan itu terkadang menipu, kita suka menganggap kenangan tertentu sebagai hal yang istimewa, ke titik yang bahkan membuat tak sadar bahwa kenangan indah masa lalu itu sudah lama kehilangan kehangatannya. jika memang menyayangi, kenapa pergi?"
Komentar
Posting Komentar