Chapter I
“Let It Be...”
Aku menyayangimu, benar-benar
menyayangimu. Selalu seperti itu, memulainya dari awal dan menyakiti satu sama
lain. Aku mencoba untuk mengumpulkan sejumlah nyali sebanyak-banyaknya hanya
untuk mem-beranikan diri mengatakan “jangan mencariku lagi” tapi aku begitu
ketakutan karena akan menyakiti perasaanmu. Karena aku tidak mengetahui
bagaimana perasaanmu saat itu. Aku mencoba untuk melakukannya, tapi aku sangat
ketakutan, aku mengurungkan niatku sejenak, lalu terlintas kembali pikiran yang
melayang seolah membayangi dan membuatku harus memikirkan-nya “apa dia akan
baik-baik saja? Bagaimana jika aku menyakitinya?” atau “apa yang harus aku
lakukan ?". aku melupakan niatku untuk melakukannya.
Suatu hari, aku mencoba untuk
mengajakmu ber-pergian menikmati waktu. Aku mengajakmu ke sebuah kafe dimana itu adalah tempat favoritmu untuk menikmati waktu santaimu, aku
menikmati minumanku dan duduk berada tepat di hadapanmu. Aku melihat
wajahmu,aku menatapnya aku bertanya-tanya “apa aku bisa melakukannya ?” aku
berpikir sejenak lalu melupakannya kembali dan terus seperti itu. Izinkan aku pergi.... itu kalimat yang
terlintas di kepalaku.
Bahkan jika di ingat kembali, tepat saat 3 hari
setelah nya aku ingat apa yang telah ku lakukan kepadamu. Aku menemui mu, aku
menatap wajah mu dengan lembut. Dan aku mengawali perkataan dengan “terimakasih
sudah melakukan sebuah kebohongan dan kejujuran padaku selama ini”. Lalu, kau
memulai perdebatan itu dan dari semua perdebatan yang kita bicarakan hanya
mengarah pada perpisahan.
Masih jelas teringat di kepalaku aku berkata “izinkan aku pergi, tidak akan ada yang
berubah. Yang berubah hanya saja aku bukan lagi milikmu. Aku mencoba semua
berbagai cara untuk mempercayaimu di setiap saat dan mencoba berbagai cara
untuk mempertahankan semuanya. Kamu masih bisa melihatku , kamu harus percaya
bahwa aku masih menjadi teman-mu. Tapi tetap saja yang berubah kamu bukan lagi
milik-ku begitu pula sebaliknya. Jangan paksakan genggaman tangan-mu padaku”.
Dan pada saat itu juga kamu menangis dan mempertanyakan mengapa dan bagaimana
aku bisa melakukannya, dan aku masih menatap-mu, entah mengapa pada saat
melihatmu menangis hatiku merasa sakit karna melihatmu begitu kesakitan
setelah mendengar perkataanku. Tapi aku harus melakukannya untukmu. Terimakasih
sudah bersamaku selama ini dan, terimakasih sudah melakukan kebohongan,
seterusnya aku akan terus berpura-pura untuk tidak mengetahui-nya. Biarkan
semuanya terjadi apa adanya. Aku menyayangimu, maafkan aku.
Komentar
Posting Komentar