SEASON 2 - CHAPTER VIII (Final Chapter) “The Day”
“The Day”
Beberapa minggu semenjak Rei
menyatakan perasaannya padaku, aku kembali dekat dengan Erwin, sosok orang yang
selalu membuatku menunggu kabarnya. Entah kali ini rasanya sangat berbeda,
seperti senja yang datang hanya sebentar lalu pergi, tetapi dia selalu berjanji
untuk kembali lagi esok harinya.
Erwin Nugraha.. orang yang selalu
membuatku menunggu kabarnya, menunggu suaranya, dan senyumannya.
Aku memimpikannya kemarin malam, terlihat jelas
wajahnya di mimpi, senyumannya yang manis seperti eskrim stroberi membuatku
makin menyukainya. Tangannya yang saat itu menggenggam tanganku dan mengatakan “jangan di lepasin ya el...” entah
kenapa rasanya mengingat mimpi di malam itu membuatku bahagia karena terasa
seperti nyata bagiku.
Susah untuk dilupakan meskipun hanya mimpi, semua
terasa nyata.. genggaman tangan itu.. dan perkataannya di mimpi tadi malam....
Membuatku
akan terus bertahan dengan perasaan yang sama seperti 3 tahun yang lalu saat
pertama kali aku menyukainya....
Pagi itu sebuah pesan spam masuk ke notifikasi
HandPhoneku, dia adalah orang yang selalu ku tunggu, datang tiba-tiba dan
mengirim pesan “bisa keluar sebentar ??
aku ada di depan rumah kamu el..” saat itu juga aku langsung berlari ke
depan pintu hanya memakai pakaian tidur, dan berlari menghampiri Erwin di depan rumah.
Dan lagi-lagi, pagi itu aku di buatnya merasa senang
karna sapaan dan senyumannya “selamat
pagii” sama seperti karyawan yang bekerja di minimarket, dengan memberi
sapaan yang sama, tetapi berbeda dengan sapaan yang dia berikan. Itu membuatku
serasa seperti ingin berteriak karna terlalu senang dengan apa yang terjadi
pagi itu, dan yang membuatku selalu ingat untuk tertawa adalah perkataannya
saat memberiku bungkusan di dalam kantong plastik untuk sarapan pagi itu.
eliza udah makan ?? kata ayah kamu, kamu suka
makan lumba-lumba ya, biar tambah tinggi ?? nih, aku bawain kamu bubur ayam,
kata bapaknya yang jual stok lumba-lumbanya abis. Tapi ini spesial buat eliza.
Soalnya beli ayamnya nya jauh.
Masa gitu sih
win ?? haha , jawabku dengan tertawa
mendengar perkataannya.
Iya beneran,
kamu tau gak ? itu ayamnya beli dimana ?, tanya
Erwin padaku.
Emang dimana ??
Itu si ayamnya
datang sendiri ke si bapak, dia bilang mau berkorban buat kamu biar kamu jadi
tambah sayang, semacam kalimat Aku Ayam Kamu ehehe. ,jawab erwin.
Hahaha apasih
receh dasar kang somay
Begitu setelah dia menghampiriku dan mendatangiku
secara langsung di hadapanku, membuatku semakin menyukainya dan tidak ingin melihatnya berbalik arah dariku. Membuatku
selalu ingin menggenggamnya, dan tidak memberi celah sedikitpun untuk
melepaskan genggaman itu...
Malam itu dia menjemputku untuk pergi bersamanya, ke
sebuah taman bermain dengan biang lala yang besar berada di tengah taman
bermain itu. Erwin mengajakku untuk naik biang lala tersebut, dengan
menggandeng tanganku sangat erat dia membawa ku masuk ke dalam wahana bermain
itu. Bagiku, malam itu adalah puncak dari penantianku selama 3 tahun, aku
mengingatnya dengan jelas, dia menggunakan kaos merahnya dengan memegang
tanganku sangat erat, dan tatapannya yang dalam saat itu dia mengatakan
jangan di lepasin ya gengamannya, kamu
punyaku sekarang.bukan Cuma ragamu, tapi
hatimu juga....
entah
bagaimana caranya harus menanggapinya, aku hanya tersenyum malu-malu saat itu.
ell.. kalo senyum jangan
manis-manis, nanti ada yang suka selain aku. Senyumnya di simpan buat besok, isi tenagaku pake senyummu ya.
Kok isi tenaga nya pake senyum ?
bukan makanan? , tanyaku pada
Erwin.
Yaa karna, senyuman kamu manis, dan yang
manis-manis biasanya kan mengandung karbohidrat. Dan karbohidrat itu sumber
tenaga. Sama kek kamu sumber semangat buat aku.
Itu
dia akhir ceritaku, di tutup dengan materi IPA dan senyumannya yang selalu
membuatku makin menyukainya. Di puncak biang lala dengan pemandangan lampu dari
gedung tinggi yang menghiasi kota. dia memilikiku, aku memilikinya. Dia bukan
Dilan 1990, melainkan Erwinku 1999.
29 Januari 2018, puncak biang lala.
TAMAT
Komentar
Posting Komentar