SEASON 2 - CHAPTER VII “Terlambat...”

“Terlambat...”

            Aku bertemu lagi dengannya, Erwin Nugraha... orang yang sempat singgah di pikiran dan hatiku. Setelah sekian lama tidak saling bertemu ataupun mengirim pesan, kami bertemu kembali, masih jelas dalam ingatanku senyumannya yang manis, dan suaranya yang selalu membuatku menunggu di setiap pagi dan malam. Senyuman manis yang se-manis es krim stroberi itu membuka pembicaraan kami, “hai el apa kabar ??” senyumnya dan sapaan yang membuatku masih teringat bagaimana aku menyukainya saat pertama kali. Senyuman itu masih sama persis seperti yang terakhir aku lihat di acara kelulusan sekolah SMA, dia masih sama seperti terakhir kali aku melihatnya.

            Setelah sekian lama kami memutuskan untuk saling menjaga jarak, aku tidak tau apa alasan Erwin juga ikut untuk menjaga jarak denganku, yang ku tau Reihan sahabatku itu hanya menyuruhku untuk move on dari Erwin. Mungkinkah Reihan menyuruhnya untuk juga menjaga jarak denganku??? aku tidak tau pastinya yang aku tau Reihan selalu bersamaku saat itu dia yang selalu berada di sisiku. Dan pada saat kami di pertemukan kembali, Erwin hanya bertanya “gue boleh gak kirim pesan lagi ke lo ? ”, dan aku hanya menganggukan kepala seolah aku mengiyakan pertanyaan nya.

            Pada akhirnya aku dan erwin saling berkirim pesan lagi, dia datang lagi kepadaku setelah apa yang terjadi dengan hubungannya dan Ashley. Setelah sekian lama aku berusaha melupakannya dan “hampir berhasil” melakukannya, dia datang kembali dan menuju ke arahku tapi entah mengapa aku merasa berdebar kembali ketika kembali melihat senyumnya dan mendengar suaranya itu ?? seolah tidak terjadi apa-apa sebelum itu, dan sekarang kami setiap hari saling mengirim pesan.

3 bulan berlalu semenjak kami selalu bertukar kabar via chat, dia bertingkah laku seperti senja yahh.. dia datang hanya sebentar lalu pergi dan kembali lagi besoknya. Entah apa yang terjadi hari itu aku hanya bisa menahan rasa tersipu malu karena sebuah pesan yang ada di notifikasi hpku, Erwin mengirim pesan padaku,
Elll ....
Elizaaaa....
Elizaaa Elizaa...
Rindu boleh gak El ???

Saat itu juga aku menahan senyum akibat menahan rasa malu dan bahagia tersendiri ketika Erwin mengirim pesan seperti itu padaku. Saat itu aku sedang berada di sebuah taman, aku bersama Reihan malam itu, dan tanpa aku sadari aku berteriak pada Reihan,
“haannn !! gue seneng gilaak si Erwin nge chat gue masa si Erwin bilang ka-”,
            “yaaa bagus deh kalo lo nya seneng gue ikut seneng haha”, saut Reihan memotong omonganku dengan senyumnya yang lebar. Entah apa yang ku rasakan saat itu, Reihan terasa berbeda dari sebelumnya. Sudah jelas itu terlihat dari senyumannya yang tidak seperti biasanya, atau mungkin hanya perasaanku saja ? Beberapa orang mengatakan padaku bahwa Reihan memiliki rasa padaku, tapi aku merasa tidak begitu, Rei seperti saudara yang dekat denganku.

            Setelah hari itu, aku menceritakan kepada Rei bahwa aku sangat senang jika Erwin kembali dekat denganku. Aku merasa Rei memberi jarak padaku, dia tidak pernah kelihatan bahkan mengirim pesan sekalipun padaku tidak pernah. Mungkin benarkah perkataan orang-orang jika Rei memiliki rasa tersendiri untukku ? tapi aku takut jika reihan mengira aku berharap lebih padanya. Aku masih merasa Rei berbeda dari sebelumnya, hari itu Rei meng-upload story di instagram dengan latar belakang hitam dan tulisan berwarna putih

        “  that i’m still breathing
            I’m hopeless now....     (calum scott – you’re the reason)

Aku makin bingung dengan sikapnya, aku bertanya-tanya apa yang membuat Rei seperti ini. Dan waktu di kampus pun Rei seperti menjaga jarak, bahkan jika bertemu dengannya, Rei hanya tersenyum tidak seperti biasanya selalu menyapa dan berteriak untuk memanggil namaku.
Aku mengirim pesan pada Rei, aku mengajaknya untuk bertemu
           
reiii.. ketemu yuk :( pengen es krim nih, aku tunggu di taman dekat TK yaaa..

iya ayo.”, balasnya singkat.

Aku melihat Rei sudah menugguku di taman, yang aku lihat dia hanya meng-scroll menu di hp nya. “reeeiii yuk jalan”, ajakku pada Rei. Dan Rei hanya bangkit tanpa sepatah katapun hingga akhirnya kami berjalan dan tanpa satu obrolan apapun, karna aku bingung harus memulai nya seperti apa. Sampai di sebuah kafe. Kami hanya berdua duduk saling berhadapan . “rei ada panggung live music tuh, naik sana kangen suara lo pas nyanyi nih”, perintahku pada Rei, dan dia lagi-lagi hanya diam dan berdiri melakukan apa yang ku minta.
Dan di pertengahan Rei menyanyi, aku melihat ekspresinya yang terbawa suasana lagu yang dia nyanyikan

            “biar aku yang pergi biar aku yang tersakiti
            Biar aku yang berhenti, berhenti mengharapkanmu...” (aldi – biar aku yang pergi)

Saat itu juga ketika Rei turun dari panggung, aku langsung menanyakannya pada Rei “lo kenapa ? tumben nyanyi lagu galau gitu ? di tolak cewe ya ?”. karna yang aku tau, ada wanita yang dekat dengannya dan tampaknya Rei juga nyaman dengan orang itu, benar saat itu aku terkejut karna jawaban dan pernyataan yang Rei berikan.

            “hmm bukan el, i want u know about how i  feel. Yahh, mungkin gue akan terkesan seperti kekanak-kanakan, but it’s about my feelings, gue merasa selama ini mungkin gue nyaman sama lo, tapi gue sadar lo Cuma anggap gue sahabat tidak lebih dari itu. Yah gue emang kecewa karna lo ga sadar sama perasaan gue ke lo selama ini, gue juga nyesel dulu gak mau nge gubris perasaan lo. Sakit sih, tapi gue ikut seneng kok lo udah nemuin orang yang lo suka dan deket sama dia lagi. Gue rela el, asal lo bisa bahagia. Intinya gue suka dan gue nyaman sama lo eliza”, jelasnya Rei.

Entah apa yang terlintas di pikiranku saat itu, dengan tatapan mata Rei yang dalam dan pembicaraan yang terdengar sangat serius dan dia hanya tersenyum kembali seperti biasanya. Aku tidak bisa membalas perkataan Rei sedikitpun, dan yang ku lakukan hanya tersenyum kecil. Rei mengajakku pulang ke rumah dan dia mengantarku seperti biasanya.

Dan mungkin malam itu juga adalah pesan terakhir dari Rei yang di kirim kan kepadaku, yaa.. sebuah voice note dengan suaranya dan iringan gitar dia menyanyikan sebuah lagu

 “ sesaat di sampingmu seakan kau milikku
Ku sadari tak seharusnya terbawa perasaan
Dan aku mencintaimu
Sungguh-sungguh tanpa kau tahu
Tersimpan di dalam hatiku
Selamanya ini menjadi rahasia cintaku... ”(kahitna – rahasia cintaku)

Dan terselip pesan dari Rei
 “maaf gue ngelakuin ini, gue tau gue pengecut. Gue Cuma pengen lo ngerti soal perasaan gue ke lo. Gue mau lo bahagia itu aja kok. Gue gak bakal ngerasa perjuangan gue sia-sia el,  gue merjuangin lo karna gue suka dan nyaman sama lo. Gue tetep disini kok buat lo, Good luck buat hubungan lo sama erwin ya !

Sejak saat itu aku dan Rei hanya bertingkah seperti teman biasa, tidak seperti biasanya. Pikirku Rei membutuhkan waktu untuk sendiri karena pernyataan nya malam itu. Jika di masa SMP aku pernah menyukai Rei kupikir itu adalah masa-masa cinta monyet, Dan nyata nya memang benar “cinta datang terlambat” mungkin itu yang sedang terjadi pada Reihan. Tapi tetap saja Rei adalah sahabatku, meskipun sekarang kami tidak seperti dulu lagi.

Saat ini aku lega sudah mengetahui perasaan Rei, meskipun sekarang aku tidak menyukai Rei lagi seperti saat dulu SMP, aku merindukan beberapa hal yang sering ku lakukan bersamanya.

note from author : 
perjuangan tidak perlu memberikan semuanya, Jika itu hanya membuatmu menjadi monolog dan berjuang sendiri. berhentilah, dan cintai dirimu sendiri. jangan menyiram bunga saat sedang hujan, karna itu sia-sia. Jadi Berbahagialah ! sebelum berjuang, tanyakan pada dirimu, "apa alasan untuk berjuang?"

                                                                                                    love, 
                                                                                                moodou (author)

Komentar