SEASON 2 - Chapter VI “Kisah Klasik...”


“Kisah Klasik...”

Semenjak aku mengalihkan matahari itu dan menggantinya dengan perasaan yang penuh akan perasaan mendung dan gelap, aku berharap pelangi akan datang dan membantuku keluar dari kegelapan dan rasa dingin yang ada saat ini......
Yap tepat sekali, 3 bulan sudah berlalu rasa dingin itu masih menyelimuti perasaanku. Dan aku masih sering bertemu dengannya di kampus. Yaa, dia Ashley. Aku sudah tidak ada rasa untuk menghampirinya, seperti saat sebelum kami kenal begitulah keadaan yang terjadi. Yahh..  aku menikmatinya seperti biasa, karena setiap orang memiliki patah hati terhebatnya masing-masing.... dan aku hanya melanjutkan kehidupanku layaknya mahasiswa seperti biasanya.

[di sisi lain...]

Namaku eliza, aku mahasiswi biologi di salah satu Perguruan Tinggi di surabaya...
Kisahku di mulai 3 tahun yang lalu....

Aku mengenalnya sebagai sosok orang yang hebat ketika berbicara di hadapanku, mengenalnya selama 3 tahun kupikir sudah cukup. Dia yang memiliki senyuman manis seperti es krim stroberi, dan suaranya yang khas ketika melakukan voicenote, suara itulah yang membuatku rindu di setiap pagi dan malamnya, ya... dia teman dekatku, Erwin Nugraha....

Ku pikir jika aku menyukai nya dalam diam adalah cara terbaik, walapun peluang sakit hati terbilang cukup banyak. Yaaahh seperti hitungan usia rasa sakit itu bertambah setiap saat, yap benar aku menyukainya sejak kami duduk di bangku kelas 1 SMA. Aku menyukainya dalam diam, tanpa suara sedikitpun untuk memberitahukan kepadanya bagaimana aku menyukainya dengan keadaan kami adalah teman yang cukup dekat.

Rasa sakit itu bermula ketika erwin memiliki hubungan yang tidak biasa dengan salah satu teman dekatkku di kelas, rasa itu masih ku ingat bagaimana rasanya seolah perasaan yang sudah ku pendam tetapi hanya sia-sia karena tidak tersampaikan. Di dunia ini ada 2 hal yang tidak bisa di sembunyikan.... bersin dan cinta. Seseorang tidak akan tau hal itu ,kecuali engkau memberitahukannya. Sama seperti perasaanku pada erwin, aku menyembunyikannya dan aku menyimpannya sendiri.

Saat itu di Jogja, 25 januari 2016.

Aku melihatnya dengan jelas dia menikmatinya, dia menghabiskannya waktunya dengan seorang yang ia suka. Yaaa itu dia lailaa orang yang di sukainya terdahulu, sedangkan aku hanya memilih untuk tetap menatapnya dari kejauhan dan menyimpan perasaan ini sendirian. Seolah tidak ada harapan lagi untuk mencapai itu semua, dan pikiranku berkata untuk “menjauh” hanya itulah yang terlintas, tetapi entah mengapa badan tidak tergerakkan bahkan hatiku pun tidak tergerak untuk bergerak menjauh. Dan sudah pastinya aku tidak ingin lagi mendekat ke zona yang akan membawa perasaan suka ku bertahan untuk Erwin. Karena, aku rasa sudah cukup untuk menjadi pelabuhan sementaranya ketika dia membutuhkanku. Bagiku Erwin seperti kapal yang sedang berlayar di tengah samudera dan singgah padaku hanya untuk sementara waktu, lalu pergi seperti angin yang hanya lalu lalang.

Komentar