Chapter V “Jarak....”


"Jarak...."

       Sudah lama sejak saat itu aku mengatakan “Jangan lakukan apapun, biarkan aku memandangmu dari jauh.” Aku melakukan rutinitas ku seperti biasa dan karena kelas perkuliahan yang di acak kau dan aku mendapatkan kelas yang berbeda, dan membuat ku untuk belajar tanpa mu dan membiasakan diri untuk cukup memandangmu dari kejauhan. Sama seperti sebelumnya aku selalu merindukanmu, semua tentangmu...
           
Yaa.. aku merindukanmu, satu-satunya orang alasanku untuk tersenyum.....

            Terkadang bertemu terkadang juga tidak bertemu, tapi tetap saja aku merindukanmu. Aku ingin mengirim pesan padamu, tapi aku takut kau tidak akan menghiraukannya. Aku berpikir bahwa merelakan adalah sebuah tindakan yang dewasa. Entah ini luka ke berapa yang sudah aku dapatkan, semakin hari semakin aku terbiasa tanpa dirimu dan terbiasa hanya melihatmu dari kejauhan. Mungkin kau tidak mengetahui bahwa aku sangat bangga terhadap luka yang ada pada diriku. Karena bagaimanapun juga luka itu sudah menjadi satu bagian dari diriku dan sudah melekat. Aku sudah terbiasa dengan luka yang ada pada diriku ketika aku berpergian. Yang aku pahami saat ini bahwa merelakan berbeda dengan melupakan..

            Aku merelakanmu Ash, aku tidak melupakanmu. Jika nanti aku melewatimu, Aku hanya akan menyapamu, sekedar menyapa tidak lebih dari itu. Aku menyayangimu Ash, aku tidak mnejauhimu, aku hanya merelakanmu untuk pergi. Meskipun aku harus kehilangan matahariku dan menggantinya dengan hujan, aku berpikir akan ada pelangi setelah hujan itu berakhir. Entahlah aku juga tidak akan tahu kapan pelangi itu akan datang.

            Jika kau ingin kembali, berbalik dan berlari lah aku akan menunggumu disini. Kupikir saat ini kau sudah memiliki kebahagiaan yang lain tanpaku, aku turut senang jika begitu adanya, aku sudah cukup senang bisa memandangmu dari jauh. Yahhh.. memang benar kata orang kita pernah sedekat nadi dan sekarang sejauh matahari, kau memang matahariku saat itu dan aku menjadi bumi, untuk saat ini aku hanya sebatas tanah dan kau matahari yang letaknya berada sangat jauh sekali denganku, ku pikir mereka semua berkata sesuai kenyataan, karena aku sudah mengalaminya saat ini. Aku rasa sudah cukup bisa memandangmu dari kejauhan. Mungkin kau sempat bertanya-tanya “kalau menyayangi.. kenapa pergi??” aku tidak pergi meninggalkanmu Ash, aku tidak pergi kemanapun. Aku hanya memberi jarak kepadamu agar luka yang ada padaku tidak menjadi lebih dalam, aku terlalu takut untuk di sakiti lebih jauh lagi.

Aku memikirkannya dan terus berbicara dalam hatiku..
“Aku tidak ingin terlihat lemah ketika bersamamu, aku tidak meninggalkanmu, aku juga tidak membencimu. Aku menyayangimu, aku hanya memberi jarak padamu Ash....
Kau sudah bersamanya, ya ! dia orang yang bersamamu terdahulu, kau sudah kembali padanya. Aku tidak bisa menetap di hatimu.
Seperti cerita seekor rubah yang menemukan tempat tinggal baru yang membuat si rubah sangat nyaman dan memiliki rasa bahagia tersendiri seperti berada pada Naverland* namun suatu hari seekor kelinci datang dan mengatakan “hei bung ini tempatku” dan memberi arah kepada rubah untuk meninggalkan tempat itu.”

            Aku pikir seperti itulah yang aku rasakan saat orang itu datang, aku hanyalah pendatang baru yang menempati suatu tempat yang baru kutemukan. Mungkin saat ini aku terlihat ragu atas apa yang sudah aku lakukan. Tapi biarkan aku dengan semua perlakuan ini..

Pada intinya,
Aku bukanlah satu-satunya yang berada di kehidupanmu, ketika pemilik lama datang dan aku hanya sebagai pendatang baru di hatimu, se-nyaman apapun aku padamu saat itu. Tetap saja aku hanya pendatang baru yang ada pada kehidupanmu sebelum dia orang terdahulumu...




*naverland :tempat khayalan yang terdapat peri, dan tempat yang sangat amat nyaman dengan penuh kebahagiaan di dalamnya.

Komentar